Rumah Sederhana Minim Fasilitas

02Jul09

Bandung, Kompas – Para penghuni rumah sederhana dan rumah sangat sederhana mengeluhkan fasilitas umum yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

Penghuni rumah sederhana Perumahan Bumi Parahyangan Kencana, Kabupaten Bandung, Ade Cahyadi (30), Rabu (19/4), mengatakan, jarak Puskesmas terdekat saja cukup jauh. Puskesmas itu pun hanya buka setiap hari Selasa dan Kamis sehingga dia merasa repot bila ada anggota keluarganya yang sakit.

Jika Puskesmas tutup, warga terpaksa pergi ke dokter di Soreang yang harus ditempuh selama setengah jam. Padahal, biaya untuk sampai ke sana cukup besar yaitu Rp 12.000 per orang.

Fasilitas umum lain yang jaraknya jauh adalah sekolah. Dia tidak mengetahui jarak sekolah dari rumahnya. Namun, anaknya yang kelas empat sekolah dasar itu harus bersepeda sekitar 15 menit. Jika ingin menggunakan fasilitas antarjemput, Ade tidak mampu karena dipungut iuran Rp 75.000 per bulan.

Angkutan kota

Selain fasilitas umum, Ade juga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mencapai jalur angkutan kota (angkot). Bila menggunakan ojek sampai ke jalur angkot, dia harus membayar Rp 4.000. Sopir angkot enggan melintasi permukiman rumah sederhana dan rumah sangat sederhana karena belum banyak ditempati. Kalaupun harus menunggu, warga harus bersabar karena angkot bisa lewat sampai satu jam sekali. Masalah lain yang dialami Ade yaitu air sumur yang berwarna kekuningan. Air itu hanya dapat digunakan untuk mandi. Adapun mencuci baju putih dan minum, harus menggunakan air dari Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bandung.

“Fasilitas terpenting yaitu sekolah dan Puskesmas. Apalagi, sekarang sedang musim penyakit. Saya sudah tinggal selama delapan tahun, tapi masih begini-begini saja,” kata Ade. Rumah yang jauh dari jalan besar dan jalur angkot biasanya tipe sederhana atau sangat sederhana. Tipe lebih besar yaitu 45 lebih dekat ke jalan besar.

Penghuni rumah sangat sederhana di Perumahan Sanggar Indah Banjaran, Kabupaten Bandung, Sihombing (30), mengatakan, Puskesmas dan sekolah dasar tidak dibangun cukup dekat. Jika ingin ke Puskesmas, dia harus mengeluarkan ongkos Rp 8.000 sekali jalan untuk ojek dan angkot.

Mereka berharap, fasilitas umum dapat dibangun lebih dekat dengan para penghuni rumah sederhana dan rumah sangat sederhana. Manajer Cabang Perum Perumnas Regional IV Cabang Bandung Didi Maryadi mengatakan, perencanaan perumahan yang dibangun pihaknya sudah dilaksanakan sesuai ketentuan.

About these ads


No Responses Yet to “Rumah Sederhana Minim Fasilitas”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: