ARSITEKTUR (YANG TIDAK) CUMA UNTUK KAUM ELITE

05Jul09

OKY KUSPRIANTO [PR]

SEPERTI kebanyakan mahasiswa lulusan jurusan arsitektur, Oky Suprianto pun sempat memburu karier di studio atau biro arsitek, begitu lulus dari kampusnya di Arsitektur Unpar. Ia pun mengecap sejumlah pengalaman mengerjakan order jasa arsitek bagi klien yang membutuhkan pembangunan rumah.

Namun, nikmatnya menerima pesanan yang tak jarang bernilai rupiah tinggi itu, tak membuat Oky berdiri pada zona nyaman. Pribadinya yang seolah lekat dengan kepekaan sosial justru menuntunnya untuk keluar dari pekerjaannya, dan mendirikan lembaga nonprofit bernama Studio Habitat bersama 3 temannya. “Karena waktu kerja itu saya kepikiran, kenapa kok yang hire arsitek hanya yang punya duit. Kayaknya kok nggak ada kesempatan dan waktu untuk bantu orang-orang kurang mampu,” kata Oky, kelahiran 20 Oktober 1977.

Studio Habitat merupakan mitra dari Habitat for Humanity, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang perumahan murah untuk orang-orang yang kurang mampu. Kini, Oky kembali berkarier di sebuah studio sebagai nafkah keseharian. Namun, ia “mengimbangi”-nya dengan “kerja sosial”, seperti meminjam istilahnya, dengan tetap aktif berkegiatan di Studio Habitat.

Salah satu keistimewaan dari Studio Habitat ialah pelibatan mahasiswa arsitektur untuk turut berkontribusi. Sampai kini, telah ada sekitar 160 orang mahasiswa pernah ikut berpartisipasi dalam membangun program rumah murah untuk golongan ekonomi kelas menengah ke bawah berbiaya kurang dari Rp 20 juta melalui Studio Habitat. Kampus berbincang dengan Oky Kusprianto, Selasa (28/4). Ketika wawancara, ia didampingi juga oleh penggiat Studio Habitat lainnya, yakni, Yu Sing, Rendi Aditya, dan Stefani Aloue. Berikut petikannya.

Bagaimana sejarah pendirian Studio Habitat?

Tahun 2004. Inisiatornya ada tiga orang, saya, Peter, dan Pauline. Awalnya Pauline bekerja di Habitat for Humanity. Kami terbentuk karena adanya Habitat for Humanity. Kami bertiga dulu sering diskusi bagaimana caranya sih arsitektur atau membuat rumah yang layak untuk orang tidak mampu, tapi tetap nilai desainnya ada. Kalau meng-hire arsitek kan kesannya hanya untuk orang yang punya duit, padahal seharusnya tidak. Makanya, kami ingin bagaimana orang kurang mampu atau semua orang bisa menikmati arsitektur yang bagus.

Awalnya, ada kesempatan karena Habitat for Humanity waktu itu sedang tidak ada desainer. Lalu kami coba masuk, terus kami membuat workshop untuk rumah-rumah yang akan dibangun oleh Habitat for Humanity. Awalnya empat rumah. Wah, ini kayaknya menarik juga kalau gerakan ini melibatkan mahasiswa, makanya kita mulai ajak teman-teman mahasiswa bergabung. Di kampus, saya melihat juga program magang atau kuliah praktik sudah direduksi sekadar wawancara. Jadi bukan kerja beneran. Dan jadi pilihan, antara magang dan kuliah praktik. Makanya, jika mahasiswa bergabung di sini termasuk kesempatan juga untuk mereka kenal dunia nyata, walau hanya bikin rumah kecil dan sederhana. Kayaknya sih nggak ada artinya, tapi buat keluarga-keluarga yang membutuhkan itu akan sangat berarti. Awalnya ada 15 orang mahasiswa ITB dan Unpar. Itu sekitar tahun 2005-2006.

Kegiatan atau program apa saja yang dibuat Studio Habitat?

Sekarang kami sedang fokus mencari material baru yang lebih efektif untuk bidang kami. Jadi, fase tahun 2008 ini merupakan refleksi atas apa yang sudah kami lakukan sebelumnya. Yang diceritakan di awal tadi, ialah cerita tahun 2007 ke belakang, yaitu kami membantu LSM Habitat for Humanity. Ada dua program yang kami ikuti, yaitu, pendampingan desain dan global village. Kalau LSM itu butuh pendampingan desain rumah, maka kami sediakan tim. Kalau global village ialah program menerima tamu dari luar negeri untuk membangun rumah. Membangunnya artinya benar-benar membangun, dari mulai memilih material sampai membangun. Tahun 2008 ini, kami mencoba mengkonsolidasikan lagi sebenarnya Studio Habitat ini mau ke mana, karena masa ini kami sedang masa transisi. Tetapi yang jelas, ada cita-cita kami untuk bisa menyediakan program berharga di bawah Rp 40 juta untuk kami bikin prototipenya untuk ditawarkan ke siapapun, termasuk ke Habitat for Humanity.

Ada berapa rumah yang sudah dibangun dan kisaran harganya?

Ada 25 rumah, kebanyakan berlokasi di Banjaran, dengan harga rata-rata Rp 20 juta. Bentuknya, satu rumah inti berisi satu kamar, satu kamar mandi, satu ruang umum, dan satu dapur. Proses pembangunan sendiri dari mulai proses desain, merancang biaya, hingga pembangunan, biasanya memakan waktu 1-2 bulan. Material untuk pembangunan berasal dari mana saja, masih umum.

Bagaimana hitungannya bisa Rp 20 juta, dan bisa cerita tentang program mendatang rumah berbiaya di bawah Rp 40 juta itu?

Angka itu keluar dari pengalaman. Biasanya waktu kami hitung, RAB selalu keluar dengan Rp 20-25 juta. Kadang-kadang orang yang mau dibantu itu suka nekad. Walau hanya dapat bantuan dari Habitat for Humanity sebanyak Rp 12 juta saja. Jadi, Habitat for Humanity memberikan sistem pinjaman tanpa bunga sebesar Rp 6 juta, Rp 8 juta, dan Rp 12 juta dengan tanpa bunga. Untuk sisanya, biasanya mereka dapatkan dari tabungan atau bantuan dari sanak-saudaranya atau bank. Habitat for Humanity memang tidak mau memberikan hibah seperti BLT (tertawa), tapi agar mereka berusaha untuk rumahnya sendiri.

Sedangkan rencana program pengadaan rumah berbiaya di bawah Rp 40 juta, itu salah satu impian kami. Jadi kami tidak hanya mau melayani Habitat for Humanity. Selama ini kan kami mengekor, tapi ke depannya ingin juga lebih mandiri dalam program. Yang kami tetap pertahankan ialah keterlibatan mahasiswa, karena mahasiswa arsitektur Indonesia kan juga besar, agar bisa ikut terlibat dalam program ini. Jadi, kami ingin Studio Habitat ini menjadi sebuah komunitas yang menggabungkan antara profesional dan mahasiswa.

Ada pengalaman menarik berhadapan dengan klien?

Justru karena ini program rumah murah, biasanya suka ada permintaan unik juga. Misalnya, budget Rp 20 juta namun minta rumah dengan dua lantai. Ya itu kami anggap tantangan untuk memberikan penjelasan. Definisi rumah di kepala mereka itu jauh dengan realitas yang mereka hadapi. Dari sisi gaya, mereka sangat terpengaruh televisi. Bahwa rumah yang bagus itu rumah yang dindingnya bata, diplester, warna-warni, padahal dengan budget segitu, tentu saja agak berat. Kami sempat menawarkan rumah dengan material kayu, atau bambu. Namun mereka tolak, karena mereka pikir itu bukan rumah. Padahal rumah bermaterial bambu itu, misalnya, salah satu sejarah rumah tradisional kita, dan bukan nggak mungkin berdaya tahan lebih kuat. Mereka sudah terpatok bahwa rumah itu bata dan beton, padahal ada alternatif lain yang telah dibikin.

Desain seperti apa yang ditawarkan?

Kami belum ada template, sedang kami coba, jadi 25 rumah yang sudah dibuat itu bentuknya beda-beda. Desainnya tidak sekadar kami gambar, lalu sudah. Tapi prosesnya benar-benar ada asistensi, alias pendampingan, hingga keluar RAB (Rencana Anggaran Biaya)-nya. Soal desain, murah atau mahal itu relatif. Tapi yang sebenarnya ialah kualitas desainnya, bukan berapa besar uang yang ia keluarkan. Dari semua harga pun akan keluar kualitas desain, entah dengan materi recycle atau apapun. Sekarang kita bandingkan saja dengan Rumah Susun Sederhana (RSS). Dibangun kan semuanya sama. Tapi lama-lama masing-masing rumah mulai berubah aneh. Ada yang direnovasi, nambah kamar, nambah lantai, di-cat, dsb. Maka di situ ada kebutuhan kebanggaan, menunjukkan ini loh rumah gue. Dan sebetulnya itu masuk ke wilayah desain. Desain itu kan custom, apa yang kami inginkan di suatu rumah, itulah yang kami provide. RSS kan digeneralisasi angka. Orang-orang itu direduksi menjadi sebuah angka oleh pemerintah. Oh, perlu rumah untuk 200 KK (Kepala Keluarga). Tapi para KK itu nggak pernah ada yang nanyain, apa keluarga itu punya anak berapa, ke depan mau nambah anak atau tidak, dsb., padahal cerita itu berpengaruh pada desain rumahnya juga.

Target ke depan?

Ya menjalankan program yang sudah kami rancang tadi itu. Terus, selama ini kan klien dari Habitat, nah ke depan kami mau coba dapatkan sendiri. Target kami sebenarnya banyak, tapi berhubung lagi konsolidasi, jadi belum berani keluar dulu (tertawa). Rencananya tahun ini. Jadi dengan diwawancara kayak gini, udah ngomong gini, akhirnya mudah-mudahan memaksa kami untuk benar-benar bergerak (tertawa).

Jadi, bisa dibilang Studio Habitat menolak anggapan bahwa arsitektur hanya untuk elite?

Ya. Jadi, kami ini kayak perusahaan kecil tapi punya CSR (tertawa). Kami ini berkorban waktu dan biaya juga. Intinya, seharusnya jasa arsitek bukan hanya untuk elite atau kalangan yang berduit saja. Dan memang bisa dibilang, keterlibatan arsitektur dalam program rumah murah itu hampir tidak ada, sebab bentuknya mass building. Coba lihat pameran perumahan, biasanya ada rumah-rumah kecil yang memang murah, namun ventilasi kurang. Itu menandakan jasa arsiteknya kecil sekali, atau bahkan tidak ada arsiteknya. Itu delevoper buat rumah menengah ke bawah, bahkan harganya juga nggak murah-murah amat sebenarnya.

Bagaimana caranya jika mahasiswa mau bergabung atau masyarakat butuh jasa arsitek dari Studio Habitat?

Bagi yang mau bergabung, bisa langsung datang setiap Rabu ke Jln. Raden Patah No. 12, atau hubungi nomor kami 08122017339 (Rendy). Kalau yang mau di-desain, juga tinggal langsung kontak saja. Tentunya jika memang layak, maka kami tidak ragu untuk memberikan jasa desain gratis. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com



One Response to “ARSITEKTUR (YANG TIDAK) CUMA UNTUK KAUM ELITE”

  1. 1 petty

    salam kenal, seneng rasanya ada arsitek yang seperti ini. Saya Ibu dengan 1 orang anak (umur 1 tahun 3 bulan) dan sedang hamil 5 bulan. Pengin banget punya rumah sendiri, tapi tiap ngeliat harga rumah, langsung mundur dan menunda keinginan. Saya pernah belajar dikit2 soal psikologi aristektur. Mimpi saya punya rumah yang memang sesuai dengan keinginan saya dan suami. Boleh tahu berapa ya kira2 biaya membuat rumah sederhana, 2 lantai, 3 kamar tidur, 1 dapur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, teras, dengan taman dan kolam ikan. Pengin nya yang hemat. tapi saya nggak mau juga klo gratis, karena jerih payah teman2 patut diberikan imbalan.

    terima kasih..tolong dibalas..

    Petty.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: