Rumah Murah Makin Susah

05Jul09

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah akhirnya mengumumkan kenaikan harga Rumah Sederhana Sehat (RSh) rata-rata 12% atau maksimum Rp 7 juta. Sebuah bentuk kompromi atas desakan pengembang. Tapi, ini bisa menyurutkan minat masyarakat berpenghasilan rendah membeli rumah.

Pemerintah memahami, kenaikan yang mulai berlaku mulai 1 April 2008 itu merupakan keputusan yang cukup sulit. Kebijakan itu tidak terlepas dari dampak lonjakan harga minyak dunia sehingga memicu kenaikan harga material bangunan.

“Namun, keputusan menaikkan harga sudah melalui proses kajian serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan di bidang perumahan. Kita justru tidak ingin kalau harga RSh tidak naik, akan berdampak terhadap pencapaian target serta mengurangi kualitas rumah,” ucap Sekretaris Kemenpera, Iskandar Saleh, Senin (31/3), di Jakarta.

Sejak awal tahun, pengembang RSh giat mendesak pemerintah agar segera menaikkan harga jual bagi rumah kelas menengah ke bawa itu. Alasannya, naiknya harga material bangunan yang seolah enggan untuk kompromi dengan jeritan kaum miskin.

Rata-rata inflasi di sektor properti perumahan mulai awal tahun ini berkisar 4-11%. Di sejumlah daerah, angkanya bahkan lebih fantastis, yakni 14,5%. Angka tersebut tentu mendongkrak ongkos pengembangan proyek perumahan karena dipicu oleh kenaikan harga material bangunan.

Agar tidak mencekik konsumen, pemerintah juga menaikkan besaran subsidi bagi seluruh kelompok sasaran penerima dana subsidi. Untuk kelompok sasaran I (masyarakat berpenghasilan Rp 1,7-2,5 juta per bulan) subsidi naik dari Rp 7,5 juta menjadi Rp 8,5 juta.

Kelompok sasaran II yang berpenghasilan Rp 1-1,7 juta per bulan, berhak menerima kenaikan subsidi dari semula Rp 10 juta menjadi Rp 11,5 juta. Sedangkan kelompok sasaran III (berpenghasilan kurang dari Rp 1 juta per bulan) berhak menerima subsidi dari semula Rp 12,5 juta menjadi Rp 14,5 juta.

Sebelum memutuskan kenaikan harga, Kemenpera menerima nominal harga RSh sesuai usulan sejumlah organisasi pengembang. Misalnya, Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) mengajukan kenaikan menjadi Rp 56 juta untuk RSh tipe 36.

Perumnas ikut mengusulkan agar kenaikan harga RSh maksimal menjadi Rp 57 juta per unit. Usulan tertinggi disuarakan oleh Asosiasi Realestat Indonesia (REI) yang menyebut angka Rp 60 juta.

“Usulan kita itu karena pertimbangan agar harga RSh bisa dipatok Rp 60 juta untuk masa berlaku lebih dari setahun. Namun, kalau pemerintah punya pertimbangan lain, ya silakan saja. Yang pasti, angka itu sudah sesuai dengan keinginan pebisnis berdasarkan perhitungan naiknya ongkos pembangunan,” ucap Wakil Ketua DPP REI, Preadi Ekarto.

Angka itu sudah masuk dalam perhitungan kenaikan ongkos pembangunan. “Namun, apakah pemerintah juga bisa menghapus sejumlah beban perpajakan yang dirasa masih membebani pengembang,” papar Harjono dari Apersi.

Iskandar optimistis target pasokan RSh di tahun ini masih bisa terkejar meskipun nominal anggaran subsidi perumahan di Kemenpera untuk 2008 hanya tersisa Rp 298 miliar dari total pagu anggaran Rp 800 miliar. Sebab, Rp 502 miliar dari pagu 2008 sudah tersedot untuk pelunasan rumah subsidi yang akad kredit setahun lalu.

Kemenpera juga sudah mengajukan tambahan anggaran untuk subsidi bidang perumahan kepada Departemen Keuangan sebesar Rp 666 miliar. Jika diasumsikan Depkeu menyetujui usulan tambahan dana subsidi tersebut, bisa dipastikan dapat tersalurkan untuk 177.371 unit RSh maupun rusunami.

“Skenario selanjutnya, apabila tidak ada tambahan anggaran, otomatis dana yang tersedia untuk tahun 2008 tinggal Rp 298 miliar sehingga hanya bisa tersalurkan untuk 62.803 unit,” imbuh Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera, Tito Murbaintoro.

Namun, Iskandar optimistis bahwa ketidaktersediaan anggaran di 2008 akibat pagu yang sudah tersedot di tahun lalu tidak menjadi kendala dalam meningkatkan angka pasokan RSh.

Pasalnya, dalam sidang kabinet yang digelar Jumat (28/3), sudah ada kepastian bahwa pagu indikatif 2009 untuk subsidi perumahan mencapai Rp 1,4 triliun. Sehingga, dapat dipastikan kekurangan dana subsidi untuk 2008 bisa diperoleh dari pagu indikatif di tahun depan.

“Ditambah lagi pihak Bank Tabungan Negara (BTN) sudah menyatakan komitmennya untuk menyalurkan kredit bersubsidi dengan dana talangan dari internal yang akan dibayarkan tahun depan,” ungkap Iskandar.

Tahun ini pemerintah memasang target 158 ribu unit RSh bisa digelontorkan ke pasar. Sedangkan realisasi pembangunan unit RSh di 2007 mencapai 122 ribu unit.

Kini para pengembang RSh bisa sedikit bernapas lega dengan keputusan tersebut. Tinggal menantikan komitmen mereka dalam membangun hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Jangan hanya bisa berteriak meminta insentif keringanan perpajakan dan merengek agar harga jualnya naik. Mampukah mereka menjawab tantangan kebutuhan pasar perumahan yang berkualitas sesuai target? [E1/I4]



No Responses Yet to “Rumah Murah Makin Susah”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: